Amore
Amore
amore mio
(Claudio Baglioni)
Il mio angolino nel mondo, dove amori condivisi e pensieri contemplati.......
Amore
Amore
amore mio
(Claudio Baglioni)
Quite some times ago, me and collegues from office were talking during one coffee-break in the office, and we arrived to the topic of "literature".. One friend looked at me, shocked, when she found out that I never read any of Pramudya Ananta Toer work. Well, in fact, like many other indonesian raised in the indonesian education system, I don't and she has, on which he mentioned, the only indonesian writers ever candidated for Nobel Prize.
Well, OK.
Out of curiosity, and embarassment as well, I bought a thin novel of his. Midah si Manis Bergigi emas. Midah, the golden toothed beauty (mm.. sounds like a tittle for a kungfu movies). Of course I bought the original written in indonesian language. My first Pramudya novel.
On the ferry to singapore, only then I began to read the novel.
I'm not a literature critics, nor would I pretend to be one, but the novel is real beauty. On some chapters I even had tears forming in my eyes and pain in my heart.
The story was quite sad, but he told it in a very interesting, light way.
I dont know what else to share, I'm a terrible story re-teller but I do really encourage all dear friends to begin reading them.
Baglioni - Coggio
(1972)
Quella sua maglietta fina
tanto stretta al punto che mi immaginavo tutto
e quell' aria da bambina
che non glielo detto mai ma io ci andavo matto
e chiare sere d' estate
il mare i giochi e le fate
e la paura e la voglia
di essere nudi
un bacio a labbra salate
il fuoco quattro risate
e far l' amore giù al faro...
ti amo davvero ti amo lo giuro...ti amo ti amo
davvero!
E lei
lei mi guardava con sospetto
poi mi sorrideva e mi teneva stretto stretto
ed io
io non ho mai capito niente
visto che ora mai non me lo levo dalla mente
che lei lei era
un piccolo grande amore
solo un piccolo grande amore
niente più di questo niente più!
mi manca da morire
quel suo piccolo grande amore
adesso che saprei cosa dire
adesso che saprei cosa fare
adesso che voglio
un piccolo grande amore
Quella camminata strana
pure in mezzo a chissacche l' avrei riconosciuta
mi diceva "sei una frana"
ma io questa cosa qui mica l' ho mai creduta
e lunghe corse affannate
incontro a stelle cadute
e mani sempre più ansiose
di cose proibite
e le canzoni stonate
urlate al cielo lassù
"chi arriva prima a quel muro..."
non sono sicuro se ti amo davvero
non sono...non sono sicuro...
E lei
tutto ad un tratto non parlava
ma le si leggeva chiaro in faccia che soffriva
ed io
io non lo so quant' e' che ha pianto
solamente adesso me ne sto rendendo conto
che lei lei era
un piccolo grande amore
solo un piccolo grande amore
niente più di questo niente più
mi manca da morire
quel suo piccolo grande amore
adesso che saprei cosa dire
adesso che che saprei cosa fare
adesso che voglio
un piccolo grande amore...
Jakarnaval 2007.
Peristiwa yang sepertinya lumayan ditunggu-tunggu ama warga Jakarta. Terbukti dari jam 7 malam, bunderan HI sudah penuh sama orang yang nongkrong di bunderannya. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, brondong, ABG, segala rupa numplek semua. Gak cuma di situ sih, tapi juga dijembatan penyebarangan depan hotel nikko. Cuma di sini populasinya didominasi oleh gerombolan orang dengan kamera SLR segala rupa digenggaman..
Termasuk gue, ahon, henny dan Cecek. Cuma bedanya kalo yang lain duduk2 tenang, ngobrol, ngerokok, ngopi, ahon dan dkk gak ketinggalan ngebooking gua buat sesi foto narcist. Atas bawah, single, triple, B&W, warna, segala macem gaya udah dicoba juga hahahha..
Sambil menunggu karnaval, setelah capek foto-foto (well, sebenarnya gua yang capek motoinnya, mereka sih masih semangat juang tinggi), kita duduk2 di jembatannya. Di situ ada seorang pria, dia main saxofon. Kalo udah bosen dia main suling bambu lagu sunda (hmm dari saxofon ke suling, jauh juga walaupun sama-sama ditiup).. terus ngobrol2 ama kita-kita juga.. Topi di depannya dia udah cukup penuh dengan lembaran uang dari seribuan sampai sepuluh ribuan. "Lumayan" katanya..
Suasana yang ditimbulkan dari suara saxofon yang dia mainkan, membuat gue merasakan sebuah suasana yang berbeda, malem-malem, orang lalu lalang, ngobrol, tapi nada-nada yang keluar dari saxofon itu membuat gue merasa sendiri, sedih, terkucil... seperti berada di dalam kotak ditengah keramaian, memandang dengan keheranan dan perasaan aneh ke sekeliling.
Gua tersadar sebentar, mungkin sebenarnya adalah si jakarta yang butuh budaya, butuh kesenian, butuh musik, butuh tari, butuh puisi di tengah-tengah kehidupannya, di jalan-jalan umum, gak cuma pengamen yang nyanyi di bus seenak kadutnya cuma buat nyari duit, yang kalo gak dikasih marah-marah...
Jakarta butuh darah karena dia pembuluh darahnya udah terlalu kering, udah terlalu terkontaminasi nilai-nilai modernisme yang sebenarnya tanpa jatidiri dan nilai-nilai yang palsu dan superficial.. darahnya terlalu terhisap asap-asap yang keluar dari segala macem saluran pembuangan dari segala tempat..
Kasihan juga jakarta, umur udah 480 tahun, tapi kesepian sekali...
Pas karnaval lewat (jam 9 malam), memang terbukti cuma sekedar "pemoles", pawai dari kendaraan-kendaraan hias yang cuma numpang lewat, numpang nampang biar terdengar, tapi gak dilakukan dengan sepenuh hati dan cinta. Gak kedengeran gaungnya sama sekali. Promosi segala cara udah dilakukan, dengan kata-kata manis ini itu, tapi orang indonesia memang terkenal jago ngomong doang, jago teori (karena emang dari sekolahan diajarinnya cuma teori dan hapalan)... akhirnya yah cuma berhenti sampe di situ.
Yang lebih gubrak lagi ada satu mobil berhiaskan patung segede-gedenya kandidat Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo dan wakilnya itu. Di taronya di paling depan mobil hias pula. Sumpeh loe???
Rombongan dibuntut pawainya diisi dengan ratusan orang tumpah ruah dijalan dan RATUSAN motor yang ngantri di jalan protocol karena gak bisa lewat ketutup pawai. Tentunya bisa dibayangkan pastinya disertai dengan sumpah serapah sampe capek.
Jakarta, 480 tahun, kesepian, tidak dicintai, dimaki-maki pula....

Motive, power, and action, arising from Inspiration and Impulse.
The Lovers represents intuition and inspiration. Very often a choice needs to be made.
Originally, this card was called just LOVE. And that's actually more apt than "Lovers." Love follows in this sequence of growth and maturity. And, coming after the Emperor, who is about control, it is a radical change in perspective. LOVE is a force that makes you choose and decide for reasons you often can't understand; it makes you surrender control to a higher power. And that is what this card is all about. Finding something or someone who is so much a part of yourself, so perfectly attuned to you and you to them, that you cannot, dare not resist. This card indicates that the you have or will come across a person, career, challenge or thing that you will fall in love with. You will know instinctively that you must have this, even if it means diverging from your chosen path. No matter the difficulties, without it you will never be complete.
What Tarot Card are You?
Take'>Take>http://www.flarn.com/~warlock/tarot">Take the Test to Find Out.
Seperti biasa setiap pagi, gua nunggu taxi di halte polonia.
Lagi rame banget kendaraan, motor, mobil, segala macem tumpah ruah. Polisi juga keliatan di mana-mana. Ada taxi express kosong mendekat, gua stop aja. Udah minggir, gua naik, jalan 5 meter, "priiiiit!!!" polisi dengan muka digalak-galakin nyuruh minggir lagi.
Lho, kenapa yah distop?
Dialog singkat antara supir taxi dengan polantas:
Supir (S): "Maaf pak, salah saya apa yah?"
Polisi (P): "SIM-nya mana pak?" - terus dikasih ama sang supir
(S): "Maaf pak, salah saya apa yah pak?"
(P): "Iya, bapak tadi berhenti pas lampu lagi hijau"
(S): "Maksudnya?" <mungkin kebingungan. Gua sih gak bingung, tapi langsung naik darah>
(P): "Lah iya, tadi kan kamu berhenti itu pas lampu lalu lintasnya lagi hijau. Kalau lagi hijau itu gak boleh berhenti, nanti bikin tambah macet dibelakangnya"
Karena gak tahan, gua turun, sambil tahan emosi dan berusaha sesopan mungkin, gua nimbrung,
"Pak, maaf, kenapa yah si bapak distop?"
<penjelasan yang kurang lebih sama dengan yang diatas>
gua jawab lagi, "Lho pak, kan saya stop-nya di halte, taxinya berhenti depan halte, saya juga naik di halte, yang mana halte itu kan memang diperuntukan bagi masyarakat untuk menyetop kendaraan umum. Kalo gak boleh, di mana kami masyarakat harus menyetop kendaraan pak? Iya nih pak, si pak supir taxi distop pak polisi gara-gara berhenti di halte (sambil gua ngomong dan ngadu ke orang yang lewat).
(P): "Bukannya gak boleh, tapi kalo lagi lampu hijau, ntar macet, itu udah peraturannya"
(gue): "Peraturan mana yah pak? Sejak kapan?? Udah bertahun-tahun saya nyetop mikrolet, bajaj, taxi, bis, metromini di halte mana pun, gak pernah denger ada peraturan kayak gitu"
(P): "Iya, ini peraturannya sementara..."
(gue): "Namanya Mustamin yah pak?"
(P): "Iya.."
Akhirnya, setelah tawar menawar, dan diskusi-diskusi tertutup untuk umum antara sopir dan polisi, si pak supir taxi dikasih pergi juga tanpa bayar apa-apa...
Memang, gua, dan gua yakin semua orang jakarta, tau bahwa si polantas mungkin lagi kejar setoran. Tapi caranya itu lho. Could he at least invent or make up something better before stopping someone????
If only he were smarter....
mungkin dia jg gak bakalan jadi polantas if he were.....
Polantas Indonesia... masih perlu belajar dan usaha lebih keras lagi untuk menjadi lebih baik.............
....
Setelah seminggu di Lombok-Bali, akhirnya balik juga ke Jakarta disambut dengan ujan tiap hari. Gak beda jauh waktu di Bali dan Gili Trawangan kemarin juga yang mana hujan turun hampir tiap hari.
Belom sempet juga nulis daily journal waktu jalan2 kemarin karena masih males dan kamera digital gua masih ketinggalan tempat Mimi,... hmm.. pikir2 sih mau sekalian tulis, sekalian upload foto2 yang ratusan itu
One thing for sure is that it was FUN! hehehehe..